Sunday, February 10, 2008

SoraMido EDISI FEBRUARI 2008

SUDAH BEREDAR !

BERITA-BERITA

SILATURAHMI TAHUN BARU HMKI DI SENAYAN

SMS gelap beredar minta orang Karo tidak hadiri acara itu karena bernuansa politik

Foto : Kusik-kusik dua pria berkumis. Gubernur DKI Fauzi Bowo berjabatan tangan dengan Ketua DPD HMKI Sumut Dr. Supredo Kembaren SpB FINACS


Pemerintah Keluarkan PP No 78/2007
PERSULIT PEMEKARAN DAERAH

Dengan dikeluarkannya PP tersebut apa dampaknya bagi rencana pembentukan Pemko Berastagi? Tamatkah riwayat perjuangan panjang itu?


MARYKE PUN SAMBUT PERGANTIAN TAHUN DENGAN KEYBOD KARO dan KEMBANG API

Bagaimana acara old & new di Maryke? Malam itu siapa pun berhak untuk merasa hidup bahagia, menari dengan iringan pekibod handal dan pesta kembang api.....


Derita Tahun Baru
JALUR BERASTAGI - MEDAN MACET 7 JAM


Seharusnya hari itu menjadi hari yang membahagiakan, tapi kemacetan itu membuatnya berubah menjadi hari yang paling menjengkelkan pun meletihkan.. .. Apa sebenarnya yang terjadi?


HARGA ANJLOK, JERUK DIBIARKAN MEMBUSUK DI POHON

Jeruk manis nonya, tapi kecut harganya. Bagaimana nasib petani jeruk di Tanah Karo yang selalu dirundung nasib malang?


HAWA PANAS PEMEKARAN KAB DELI

Gesekan menimbulkan panas. Itu terjadi di Kabupaten Deli, sampai pengunjuk rasa masuk ke ruang sidang sehingga rapat paripurna DPRD jadi terusik.



ARTIKEL - ARTIKEL

Episode Sejarah TNI AD 1956 - 1958 di Sumatra Utara
KOLONEL M. SIMBOLON MEMBERTONTAK, LETKOL DJAMIN GINTINGS JADI PANGLIMA TT I


Apa sebenarnya yang terjadi di tubuh AD? Mengapa surat perintah dari Pemerintah Pusat pakai embel-embel, Kastaf Letkol Djamin Gintings ditunjuk menggantikan Kol Simbolon tapi apabila tidak terlaksana maka tanggung jawab diserahkan kepada Komandan Resimen II Letkol Wahab Makmur?


Perihal Pengampunan
Kasus SOEHARTO dan Kasus RASUL PAULUS



Antara Sukses di Bidang Ekonomi dan Adat dalam Masyarakat Karo
oleh Drs. Lape Tendi Sinulingga


Walikota Medan Ditahan atas Tuduhan Korupsi
KARO dan DUNIA POLITIK di MEDAN


Titian Rindu
PERJUMPAAN DENGAN ARON SORA MIDO.

Rosalina Purba menuturkan kisah pertemuannya dengan beberapa aron Sora Mido di Jakarta ketika berlibur dari Swedia ke Indonesia.


Wisata Kuliner
PANGGANG KARO oleh Martin L Peranginangin.
Bisnis tutung-tutung yang satu ini kian merebak dan naik daun terus. Timbul ide Martin, bagaimana kalau di-franchise- kan?


MENCARI ARSITEKTUR GEDUNG GEREJA GBKP dan TANTANGANNYA KE DEPAN
oleh Ir. Nuah P. Tarigan MA


CERPEN : RUDANG karya Julianus Limbeng


PUISI : SAPA TENDINGKU karya Junaidi Sinuhaji


KARTUN : PA CINGKAM goresan pena Arthur Sembiring


NAMO RAMBE CAFE : KELA NINI RAMBIT BALON WAGUB


MORAT & LUAM
Ikuti celoteh mereka tentang KORAN KARO

BUKU BARU NO VOLVERE : BIARKAN AKU PULANG
Novel ita sembiring


PROFIL
Semangat Sembiring Meliala
ANTUSIASME SEORANG WARTAWAN DARI DESA PENEN

Dan masih banyak artikel dan tulisan lain yang menarik dan layak disimak, termasuk kolom humor dan Sora Suki.


SoraMido
Serius, kritis, relaks bahasanya dan semua ada

Thursday, December 27, 2007

ASAL MULA KARTU NATAL

Natal enggo ndeher. Enterem jelma si enggo nukur kartu Natal , enca ikirimna man orang tua, kade-kade, ate jadi, ras teman meriah.

Tapi etehndu kin asal mulana kartu Natal e? Turi-turinna ibenaken bas kegeluhen si Henry Cole nari, kalak Manggris (Inggris), si erdahin i Public Records Office (semacam kantor kearsipan) i London . Biasana adi enggo kenca ndeher wari Natal , ikirimina surat man kade-kade ras teman-temanna lako ngendesken 'Selamat Wari Natal'. Tapi paksa e, tahun 1840, erkiteken picetna dahin emaka lanai sempat ia erbahan surat .

Enca iukurina mbages-mbages, ioooh, morah nari kal nge ate kade-kade bagepe teman-temanku kerina adi sekali enda la reh suratku, ate Henry Cole. Ah, labo bage arih, kudahikenlah temanku si John Calcott Horsley, si beluh kal nggambar, ate si Henry enda. Emaka berkat me ia ndahi si Calcott . Ipindona gelah igambar Calcott sada kartu guna ikirimkenna man kade-kade ras temanna meriah.

Kartu si ibahan John Calcott Horsley e kira-kira 12,5 cm ku gedangna, 8 cm ku bertengna. Ibas kartu e ibahanna gambar sada jabu ibas jaman Victoria si sangana kundul engkeleweti meja janahna ngangkat gelas anggur nandangi i engger (toast). Enca arah kawes bagepe arah kemuhun lit gambar kalak musil. Ence iteruh gamabr e lit tulisen A Merry Christmas and a Happy New Year To You, selamat Wari Natal ras Tahun Baru man bandu. Isi tulisen bas kartu Natal seh asa gundari labo ndauh-ndauhsa bage denga.

Kartu Natal e jadi mbar beritana. Emaka bas tahun 1843 icetak me kira-kira 1000 lembar guna idayaken i tiga alu erga 1 shiling (em duit Inggris sikitikna, seri ras 1 sen bas kita). Tapi kalak Puritan, emekap golongen si ngutamaken kegeluhen si bersih (hidup kasalehan) emprotes gambar si lit bas kartu e. Nina, gambar e, kalak minem anggur, la payo erkiteken ngajuk kalak minem anggur si banci erabahan jelma tenggen. Tapi keberaten kalak Puritan e la ngasup nebeng kartu Natal e si terus icetak ras idayaken i tiga.

Lit ka kalak si ngatakensa maka kartu Natal si pemenana situhuna kal ibahan kalak Jerman kira-kira seratus tahun sope Henry Cole. Bage gia sekali, si jelas kartu Natal si pemena idayaken (jadi barang komersil) emekap sini ibahan si Henry ras temanna si John Calcott enda.

Bas tahun 1851 Henry Cole ngelakoken pameran si mbelin i London janah bas tahun 1852 ia ikut manteki Victoria and Albert Museum i London si termurmur seh asa gundari. Erkiteken belinna ngaruhna emaka Kerajan Inggris mereken gelar 'Sir' man Henry Cole. (dari berbagai sumber)


SELAMAT WARI NATAL 25 DESEMBER 2007, DAME I DONI, DAME BAS UKUR RAS DAME BAS GELUHTA.

Tuesday, December 18, 2007

SoraMido EDISI DESEMBER 2007 (16 HAL)


BEREDAR MINGGU INI......!

BERITA UTAMA

Gagasan Pembentukan Pemko Berastagi
ANTARA KEPENTINGAN ELIT POLITIK LOKAL DAN MITOS PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Di seluruh Indonesia gairah untuk melakukan pemekaran wilayah sangat tinggi. Terbukti, sejak 1999 hingga 2007 ini, telah disahkan 169 daerah baru yang terdiri atas 139 kabupaten, dan 30 kota ditambah 7 provinsi baru. Gairah yang dahsyat itu juga melanda elit politik kota Berastagi. Hampir 5 tahun lamanya mereka berupaya untuk mewujudkan berdirinya Pemko Berastagi dengan segala hirup pikuk retorika politik
Dikupas dari berbagai segi, termasuk hal-hal yang pasti terjadi bila pemko terbentuk yaitu pembangunan prasarana fisik seperti kantor pemda, rumah dinas walikota, gedung DPRD dsb. Lalau apa itu DAU yang menjadi "madu" pemekeran di seluruh Indonesia?

Acara Mburo Ate Tedeh Muda-Mudi Karo di Ragunan, dua berita.
dan BERITA-BERITA RELIGI

ARTIKEL-ARTIKEL

MENGENANG DJAMIN GINTINGS SEBAGAI SEORANG DIPLOMAT

Sudah banyak buku dan artikel tentang peran Djamin Gintings sebagai tokoh TNI dalam perang kemerdekaan di Tanah Karo dan Medan Area. Terutama pada masa agresi militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947. Tapi belum ada ditulis tentang bagaimana sosoknya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kanada (1972-1974) dan sosoknya sebagai orang Karo.

Ikuti tulisan Ir. Budi K Sinulingga, mantan sekretaris pribadi Djamin Gintings ketika menjadi Duta Besar RI di Kanada.


KIBOT KARO DAN KREATIF EKONOMI
Julianus P Limbeng

Liembeng mengulas kibot dari sisi kebudayaan sebagai hasil dari sebuah kreatifitas dan bagaimana aspek ekonomis yang ditimbulkannya.

Seperti biasa, tulisan-tulisan Liembeng selalu bernas segi substansi dan inspiratif karena menyodorkan dimensi lain yang menarik untuk dipikirkan dan dikembangkan.

LAMPAS TAYANG MELAWEN TUNDUH
Oleh Martin L. Peranginangin

Artikel Martin ini mengulas lirik lagu Lampas Melawen Tunduh dengan bahasa yang komunikatif.

Dulu lagu itu sering diplesetkan orang menjadi "lampas tayang melawen medak"

VENI VIDI VACATUM
(Sebuah Renungan Tentang Karo)
Oleh Sora Pusuh Production.

Artikel ini membeberkan pengalaman pribadi ketika mengajak orang lain melakukan investasi di Tanah Karo tapi menghadapi kondiri birokrasi yang tidak kondusif.


KITA KALAK KARO DAN PILKADA SUMUT 2008
Oleh Simaba Tendangta Ginting

Artikel ini lebih banyak mengajukan pertanyaan ketimbang jawaban, karena memang tujuannya membuat pembaca merenung tentang kualitas kalak Karo yang ingin maju atau seolah-olah mau maju jadi balon pemilihan gubsu.

CERPEN : MELUNGEN BAS RIAHNA karya Moksa Gintings

PUISI : BALADA KIRANTING karya Simson M. Gintings

NAMO RAMBE CAFE : PEMKO JERING SI ADI

MORAT & LUAM
Ocehan mereka tentang KITA KARO DAN PILKADA GUBSU

RESENSI BUKU
MANUAL KERJA NEREH EMPO BAGI GENERASI MUDA
Judul : Indahnya Perkawinan Adat Karo
Penulis : Ir. Terang Malem Sembiring Meliala
Penerbit : Diterbitkan sendiri
Tebal : IX + 293 halaman

HuMoR
Namanya humor pasti lucu. Nasihat kami, masih tetap sama, kalau punya gigi palsu, lepaskan dulu baru baca. Jangan tertawa tapi melahirkan persoalan.

KARTUN : PA CINGKAM

SORA SUKI
Sentilan Si Bayak yang kere alias kelas bawah tentang calon walikota Berastagi.



SoraMido
Serius, kritis, relaks bahasanya dan semua ada

Monday, December 18, 2006

Pemekaran Kabupaten Langkat

Langkat, Sora Mido
Paling lambat awal tahun 2007, DPRD Langkat akan menggelar sidang paripurna menyangkut pemekaran Kabupaten Langkat, diharapkan tahun 2008 Kabupaten langkat Hulu akan terbentuk. Hal itu diungkapkan Wakil Sekretaris Panitia Pembentukan Langkat Hulu Puja Sitepu.Menurut Sitepu, untuk tahun anggaran 2006 Pemkab Langkat telah menggangarkan Rp 200 juta pada APBD-nya untuk tim pengkajian tehnis menghantarkan usulan tersebut ke paripurna DPRD Langkat. Tim pengkajian telah bekerja sejak bulan Mei 2006.

Pemekaran adalah konsekuensi logis dari terbitnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Beberapa daerah di Sumatera Utara telah dimekarkan. Kabupaten Tapanuli Utara telah menjadi empat kabupaten (Taput, Tobasa, Humbang Hasudutan dan Samosir), Deliserdang pisah dengan Serdang Bedagai, Tapanuli Selatan juga mekar jadi Madina dan Pemko Padang Sidempuan, Nias dengan Nias Selatan, serta Dairi dan Pakpak Bharat.

Secara geografis Kabupaten Langkat cukup luas, yakni 6.272 Km2 dan memiliki jumlah penduduk sebanyak 902.986 jiwa (2000), yang berpencar di 19 kecamatan. Letaknya membentang dari antara Kabupaten Karo dan Aceh di bagian Timur, Deliserdang Secara demografi Langkat Hulu didiami oleh suku Karo, Jawa dan Melayu. Kabupaten ini lebih dikenal sebagai daerah perkebunan kelapa sawit, tembakau, tebu, cokelat (kakao), dan karet. Kecuali tembakau yang seluruhnya dimiliki perkebunan negara, semua hasil perkebunan selain di bawah kendali perusahaan negara, swasta nasional dan asing, juga dimiliki rakyat. Potensi Langkat Hulu antara lain perkebunan PTP II dan perkebunan Lonsum, wisata Bukit Lawang, Namo Sira-Sira, Air Terjun dan Gua Maryke, wisata Rafting Lau Bampu (Sei Wampu). Di sektor pertambangan wilayah ini memiliki potensi yang masih terpendam, di wilayah bagian jajaran Bukit Barisan. Dari pajak hasil bumi serta DAU (Dana Alokasi Umum) dan DAK (Dana Alokasi Khusus) dari pemerintah pusat, Kabupaten Langkat Hulu sudah cukup siap berpacu dengan kabupaten yang lain di Sumut.

Pemekaran Kabupaten Langkat dengan membentuk Kabupaten Langkat Hulu tidak bisa dipungkiri lagi. Apalagi Bupati Langkat sendiri dalam setiap pertemuan mengkaji masalah ini menyatakan dukungan, " ujar Sitepu. Secara teknis saat ini Langkat Hulu memiliki 5 kecamatan yakni : Kec. Selesai, Kec. Kuala, Kec. Sei Bingai, Kec. Salapian dan Kec. Bahorok. Dan bila Kabupaten Langkat Hulu jadi dimekarkan akan tambah menjadi tujuh kecamatan, dengan bertambahnya kecamatan Gunung Tinggi dan Kutambaru. Jadi secara administrasi sudah tidak ada masalah.
Sitepu juga mengakui kalau masalah usulan pemekaran saat ini telah terdaftar di Mendagri. Rencananya setelah dibawa ke sidang paripurna DPRD Langkat maka tim Depdagri akan datang meninjau. Mengenai anggaran pemekaran untuk tahun 2007, kata Sitepu yang dikenal sebagai tokoh masyarakat Langkat Hulu direncanakan akan lebih besar. Karena kebutuhan yang mungkin sangat banyak. (Wikipedia/SIB/MP)

YKPC Alpha Omega Terima Bantuan Dari UNWG Wina

Sora Mido,
UNWG (United Nations Women’s Guild), organisasi para isteri diplomat yang bertugas pada kantor PBB di Wina, untuk program tahun 2006 memberikan bantuan dana sosial sebesar 3.680 Euro (sekitar 43 juta rupiah) kepada YKPC GBKP Alpha Omega di Kabanjahe. Bantuan tersebut merupakan hasil pasar amal (charity bazaar) yang setiap bulan Desember diselenggarakan di kantor PBB di Wina dan diberikan kepada negara-negara yang berpartisipasi di dalam bazaar tersebut. Menurut keterangan Sekretaris YKPC Alpha Omega, Benyamin Tarigan, proposal Alpha Omega dalam bahasa Jerman, dikirimkan pada bulan Februari 2006. “Puji Tuhan, UNWG memutuskan untuk membantu program Alpha Omega. Kita sangat merasa bersyukur“ ujar Benyamin.

Secara simbolis piagam bantuan tersebut diberikan oleh Presiden UNWG kepada isteri Duta Besar Indonesia, Ibu Moeliek Tryono Wibowo. Sedangkan dana bantuan itu sendiri dikirimkan UNWG langsung ke rekening YKPC Alpha Omega. Benyamin mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan bukti dari kemurahan Tuhan. “Alpha Omega yang berada di sebuah kota kecil di Indonesia, mendapat perhatian dari sebuah organisasi di Eropa, sungguh karena kemurahan Tuhan semata hal ini bisa terjadi” ujarnya. Dengan adanya dana bantuan itu maka Alpha Omega dapat lebih meningkatkan lagi pelayanannya kepada anak-anak penyandang cacat mental yang saat ini berjumlah sekitar 83 orang. “Terutama di bidang psioterapi” kata Benyamin, “peralatan itu sangat diperlukan mengingat banyak anak-anak tuna grahita di Alpha Omgea mengalami motorik kaku. “Dengan adanya peralatan psioterapi inimaka pelayanan kesehatan bagi anak-anak penyandang cacat mental di Alpha Omega dapat lebih ditingkatkan lagi”. Lebih jauh lagi, menurut Benyamin, Alpha Omega merencanakan untuk sutau saat membuka klinik psioterapi kepada umum. Sebuah langkah penting Alpha Omega mampu melebarkan sayap pelayanannya kepada masyarakat yang lebih luas lagi. Untuk Indonesia, selain Alpha Omega, Yayasan Sukma di Jakarta yang menampung anak-anak yatim piatu korbam tsunami, juga menerima dana bantuan sebesar 3. 500 euro dari UNWG. (sg)

Tanggapan atas Isu Poligami yang Sedang Marak

Oleh Dkn Em. Djeremia Sinuhadji
(Perpulungen Rih Tengah, Kutabuluh - Klasis Sinabun)

Tulisan ini barangkali agak berlebihan, terkesan mengajak Mamre (Perbapan GBKP) untuk kawin lagi. Lho apa bisa?

Mari kita baca dan simak Tata Gereja made in Sidang Sinode ke XXXIII, tanggal 10-17
April 2005 di Rereat Center Sukamakmur. Sidang yang dihadiri + 1000 peserta tersebut
telah membuahkan Tata Gereja GBKP, tahun 2005 s/d 2015. Ketika sosialisasi Tata Gereja
baru ini oleh Klasis Jakarta – Bandung di GBKP Cililitan, banyak hal yang dipertanyakan
khususnya prosentasi setoran-setoran dari PJJ, Bajem dan Majelis. Konon katanya,
menyangkut prosentasi ini kelak akan direvisi. Tapi yang paling seru dan ramai serta lama
didiskusikan adalah tentang Peraturan – peraturan, khusunya Pasal 2 butir 6. Kaum ibu yang
mewakili Majelis-majelis, ketika diungkapkan pasal ini, tidak berlebihan 200% kontan
menolak.

Untuk lebih jelas sebaiknya saya kutip Pasal 2 butir 6 tersebut:
Judul butir 6 : SEORANG SUAMI YANG BERAGAMA KRISTEN KAWIN DUA KALI
a. Apabila seorang suami yang beragama Kristen beristri lebih dari satu, maka yang bersangkutan dikeluarkan dari GBKP.
Komentar : Tentu demikian seharusnya.
b. Yang bersangkutan dapat diterima kembali, apabila ia dengan kedua isterinya hidup rukun dan menunjukkan ketaatannya dalam agama Kristen selama 5 - 7 tahun.
( Yes 1 : 18;25: 1;43 : 24B; Mark 2:5;Yoh 1 : 9 )
c. Penerimaan yang bersangkutan melalui liturgi KEBAKTIAN setelah menerima bimbingan pokok-pokok dan pengakuan GBKP.

Dari a,b,c ini yang ramai dipersoalkan “b”
Butir 6 sub b inilah yang banyak dipersoalkan diperdebatkan dan didiskusikan oleh peserta sosialisasi TATA GEREJA. Karena apa?
Karena butir 6 sub b tersebut sangat memberikan peluang / kesempatan bagi kaum bapak (mamre) untuk bisa kawin lagi.

Syaratnya : sang suami dapat rukun dengan kedua istrinya dan taat dalam agama Kristen
5-7 tahun.

Persoalannya sekarang, siapa yang menilai dan menetapkan mereka rukun?
Apa ukuran (sukat-sukat) dan kriteria mereka dikatakan rukun.
Apakah ada seorang istri rela dan senang hati kalau ada madunya (kiduanya?)
Barangkali sangta susah mencari seorang istri yang senang dimadu. Belum tentu ada satu dalam seribu atau sejuta. Dibata pe pecemburu, la ate Dibata iban kiduaNa. Ula Dibata-dibata sideban selain aku.

Wahai sidang sinode ke 33, apakah anda melhat dampak buruknya semuanya ini, ketika keputusan ini diambil, banyak peserta sidang sedang istirahat ke Bandar baru atau tidur siang?


Lantas apa kaitannya dengan ayat-ayat :
Yes 1 : 18; 25: 1; 43: 24B
Mark : 2:5 dan Joh 1 : 9 yang mungkin sebagai ayat-ayat referensi (pendukung) ?

coba kita baca dan renungkan ayat-ayat tersebut :
- Yes 1 : 18 , berbicara tentang pengampunan dosa.
- Yes 18 : 25, sama sekali tidak ada relevansinya.
- Yes 43: 24 B, Tuhan selalu dibebani dengan dosa-dosa manusia
- Mark 2 : 5, Karena membawa iman, dosa diampuni.
- Joh 1 : 9 , Kristus membawa terang kepada manusia.

Untuk kita renungkan, apakah ayat-ayat tersebut diatas cukup kuat untuk mendukung sebagai dasar sang suami kawin lagi ? wah enak di lu kata Moria.
Kalau kita simak ayat-ayat dimaksud cenderung dari sisi pengampunan / penghapusan dosa-dosa saja .Kira-kira berbuat dosalah, karena Tuhan itu maha pengampun. Alahmak kata orang Medan.

Menurut hemat saya butir 6 sub b bertentangan dengan azas keadilan, kejujuran , kebenaran dan kepatutan, terutama untuk kaum ibu ( Moria )

Diakitkan dengan liturgi pemberkatan nikah ( pasu-pasu) khususnya janji ( perpadanan ) kedua calon mempelai, model II :
….. aku erpadan njaga kebadiaan perjabunta seh Dibata nirangken kita alu kematen …… “
Sampai sekarang hasil sidang sinode BPL tahun 1994 tersebut belum pernah dicabut, artinya masih sah. Dan model II ini lebih banyak digunakan dalam acara-acara pemberkatan nikah, karena diucapkan oleh masing-masing calon pengantin.

Dari uaraian diatas serta hasil sosialisasi TATA GEREJA 2005-2015 diklasis-klasis maupun diMajelis sebaiknya Moderamen dan panitia dan Tata Gereja dengan rendah hati berkenan merevisi pasal 2, butir 6 khususnya sub b.
Tudak ada gading tidak retak, tapi buatlah retaknya menjadi keindahan. Syalom-Mejuah-juah.


(Condet – Jakarta, Agustus 2006)

Berserulah Kepada Isa Almasih

Oleh: Bode Haryanto Tarigan

Indonesia mengenal lumpur panas di Jawa Timur, sebagai lumpur panas LapindoBrantas. Yang sesungguhnya adalah lumpur panas bumi. Hingga saat ini penagananlumpur panas tersebut dapat diangap gagal, walaupun pengendaliannya dengandibuang ke laut bukan lah berarti menyelesaikan masalah tetapi hanya sekedarmemindahkan masalah atau bahkan memperluas masalah.Kerohanian (alternatif).Berbagai upaya pengetahuan teknis telah dicoba namun hasilnya nihil, bahkanilmuan memperkirakan lumpur ini akan mengalir terus 10 hingga 30 tahun, membuatmasyarakat sekitar sumur tidak dapat membayangkan apa jadinya lingkungan mereka.Upaya-upaya ini bukan saja telah mengakibatkan banyak menghabiskan biaya tetapijuga mental dan keyakinan bangsa ini.Dengan keterbatasan ilmu pengetahuan dan kurangnya pengalaman dalammenyelesaikan masalah ini, sehingga ada yang mengusulkan upaya alternatif denganmenggundang paranormal atau sejenisnya untuk membantu dengan kekuatansupranatural yang mereka miliki.

Sebagai Negara berazaskan Pancasila danmengakui Tuhan YME sesungguhnya ini adalah suatu hal yang dapat diangap tidakpantas dan menyesatkan, tetapi demikianlah manusia yang selalu berpikiran pintasbila sedang ditimpa masalah seperti ini. Tak hayal lagi sang Presiden sempatberujar telah merasa gamang memimpin Negara yang tidak habis dirundung bencanaini.Begitu banyaknya kasus yang telah terjadi secara beruntun dan berulang daribencana alam, kecelakaan, perang antar penduduk dan penyakit demi penyakit,seharusnya sudah sepantasnya membuat kita kembali ke hati nurani dan mencarisecara rohani kehendak Ilahi bagi setiap umat manusia yang percaya akan Allahsang khalik. Seharusnya sudah saatnya kita melihat posisi yang tidakmenguntungkan ini sebagai pelajaran dari Sang pencipta langit dan bumi sertaisinya, dalam arti disaat kita coba mengandalkan tenaga dan pikiran dan akhirnyasirna dengan datangnya bencana-demi bencana yang membuat kita sudah sepantasnya sujud dan memohon kepadan Nya.

Jika kita cermati kasus lumpur panas adalah bencana yang bersumber dari perut bumi maka kita sudah sepantasnya kembali keSang pencipta bumi, yang telah membentangkan langit, dan meletakkan dasar bumisemesta alam. Nabi Isa Almasih dan MukzijatAllah khalik langit dan bumi telah mengenalkan ketuhanan melalui nabi-nabi danrasul-rasulNya. Isa Almasih anak Mariam adalah salah satu nabi yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan lagit dan bumi. Ia lah nabi yang bolehmengendalikan badai dan gelombang, menciptakan yang tidak ada menjadi ada,bahkan Ia mampu memberikan nyawa bagi mahluk hidup dan mati, dan banyak mukjizatlainnya di lakukannya di atas bumi. Keungulan sang Nabi ini diantaranya adalah diyakini oleh lebih dari setengah umat dunia telah terangkat/naik ke sorga, juga nabi yang diyakini akan datang sebagai hakim bagi semua umat manusia dansaat ini bersama Allah YME berada di Sorga mulia.Kita memiliki keyakinan bahwa saat ini sang Nabi ini yang paling dekat denganAllah khalik langit dan bumi dan isinya. Apalah salahnya kita mencoba berseru kepadanya Isa Almasih yang di Sorga sang pembawa mukzijat yang luar biasasang hakim kami, bantulah bangsa Indonesia ini, dalam menghadapi berbagaimasalah khususnya lumpur panas dari perut bumi ini, kami meminta kepadaMu kepadaTuhan Mu yang adalah Tuhan kami, Sang pencipta langit dan bumi agar memberikanmukzijat untuk menghentikan bencana-bencana ini, tolonglah kami di Indonesiaini, karena kehendakmulah yang jadi dan dihadapan Mu tiada yang mustahil.

Bencana untuk Bersatu

Kadang kala mungkin kita tidak sadar bahwa bencana-bencana yang terjadi diIndonesia, meminta kita agar besatu, bergandengan tangan, agar kita semakintegar dalam mengisi masa depan bangsa, membangun bersama-sama dan sama-samaterbangun. Kita sebaiknya mencoba mengurangi hal-hal yang dapat menjadikanpembatas dalam kebersamaan kita seperti masalah agama dan kesukuan. Mulailahbelajar melihat kesempatan yang masih ada ini dengan menjauhkan perbedaan danmemperbesar persamaan.Tidak ada salahnya kita mencari persamaan sebagai sesama umat beragama, berdoadan meyembah Allah Sang pencipta didalam nama Isa Almasih sang hakim akhir zamanbagi seluruh umat manusia. Hal ini adalah jauh lebih mulia meminta bersama-samademi keselamatan bangsa dan negara secara rohani secara bersama-sama menembusbatas agama. Dan janganlah membiarkan paranormal memangil roh-roh lain yangtidak dikenal yang tentunya akan melukai hati Allah yang pencemburu sesuaidengan apa yang ditulis dalam kitab Taurat nabi Musa.Penutup.Pendekatan rohaniah dengan meminta rido Tuhan YME melalui sang Nabi pembawamukzijat serta dilanjutkannya upaya teknis dalam penghentian lumpur panas bumi,diharapkan dapat membuat bangsa ini tetap yakin dan semangat bahwa kita adalahbangsa yang siap menyongsong masa depan tanpa mengorbankan dasar Negara dankeyakinan kepada Tuhan YME. Kita juga berharap mukzijat Ilahi dapat menutupsumur lumpur panas tersebut dalam waktu yang lebih singkat.

(Penulis adalahPermerhati masalah Rohani dan Lingkungan, staf pengajar salah satu PTN di Medan,dan sedang menempuh pendidikan Doktor di Taiwan).

Varia Natal

GBKP Klasis Jakarta Palembang

Natal klasis Jakarta Palembang diadakan pada tanggal 9 Desember 2006, pukul 16.00 WIB bertempat di Sport Mall Kelapa Gading . Sebagai ketua panitia adalah Bp. G.T Surbakti dan Sekretaris Pt. Ir. Harun Tambun. Acara Natal kali ini dimeriahkan oleh Bams “ Samson” Bukit, Harvey Malaiholo, Edo Kondologit dan Ramona Purba cs. Pengkhotbah DR. Edison Munthe dan Liturgist Pdt. Rehpelita Ginting, S.Th., Mmin. Acara juga diisi oleh Koor Kolosal Mamre Klasis, Moria Klasis, Permata Klasis, KAKR Klasis, Kuarted Suara Nubuatan, Tari-tarian KAKR Klasis dan Gendang Tradisional Karo. Acara ini rencananya akan dihadiri oleh Ketua Moderamen GBKP Pdt. Djadiaman Perangin-angin DTh.

GBKP Pondok Gede

Panitia Natal GBKP Pondok Gede telah terbentuk dan sebagai ketua Selamat Sembiring SE (Bp. Rio) Natal diadakan tanggal 21 Desember 2006 di gedung Sejahtera Taman Mini Pondok Gede.

GBKP Cileungsi

Natal GBKP Cileungsi diadakan pada tanggal 9 Desmber 2006 bertempat di gedung Gereja GBKP Cileungsi.

GBKP Cijantung

Tanggal : 24 Desember 2006
Tempat : Gereja
Ketua Panitia : Azis Sembiring
Sekretaris : Bp. Ruth Purba

GBKP Pamulang

Natal GBKP Pamulang diadakan :
Tanggal : 16 Desember 2006
Ketua Panitia : Pt. Nd. Praninta Sembiring br Surbakti

GBKP Karawaci

Tanggal : 6 Desember 2006
Tempat : Gereja
Pengkhotbah : Pdt. T.R Pinem
Pelaksana : Sektor II : Ketua Panitia : Ridwan Sembiring (Bp. Lebi Sembiring)
Sekretaris : Rumpinan Sembiring

GBKP Perpulungen Binong, Tangerang

Natal Perpulungen GBKP Binong diadakan :
Tanggal : 17 Desember 2006
Tema pada acara Natal ini : “Kebersamaan”

GBKP Kebayoran Lama


Natal GBKP Kebayoran Lama diadakan :
Tanggal : 16 Desember 2006
Tempat : Gereja
Pengkhotbah : Pdt. Rasmalia Barus
Pelaksana PJJ : Sektor Bendi I + II
Ketua Pelaksana : Sarimin Sitepu
Wakil Ketua : Tiba Bangun
Sekretaris : Nimrat P
Bendahara : Juliani Apulina br Bangun
Natal ini juga dimeriahkan oleh Yayasan PNIEL ( Anak-Anak Korban Kerusuhan Ambon, Group Paduan Suara “Nabirong” Drama Singkat dengan judul “Mukjizat Terbesar” yang diprakarsai oleh Sektor PJJ Bendi I + II

GBKP Tanjung Priuk

Natal GBKP Tanjung Priuk diadakan :
Tanggal : 24 Desember 2006 merupakan kebaktian Natal yang dipimpin Pdt. Esra Bukit
Tanggal : 25 Desember 2006 diadakan perayaan Natal GBKP Tanjung Priuk yang dipimpin Pdt. Tohap Sihotang Ketua Panitia : Bp. Vera Ginting

GBKP Cililitan
Natal GBKP Cililitan diadakan pada tanggal 24 Desember 2006 bertempat di Direktorat Kesehatan Angkatan Darat Cililitan. Sebagai Panitia langsung dipegang oleh BP Runggun, Sebagai ketua Pt. Naheson Barus, Sekretaris Pt. Sudiman Tarigan, SH, Bendahara Pt. Ir. Lembah Tarigan. Pada acara ini ditampilkan Fragmen Drama dan Puji-Pujian lainnya. Renungan dibawakan oleh Pdt. T.R. Pinem.

GBKP Klasis Jakarta Bandung – Jakarta Palembang


Pada tanggal 3 Desember 2006 bertempat di GBKP Tanjung Priuk diadakan Natal Bersama Pt. Dk. Em. Klasis Jakarta Bandung dan Jakarta Palembang, beserta lansia- lansia di kedua klasis tersebut. Natal kali ini dihadiri ± 270 orang. Sebagai Liturgis Pdt. Martinus Bangun dan pengkhotbah Pdt. M.K Sinuhaji sekretaris Klasis Jakarta Bandung.

Moria, Mamre, Lansia dan Anak Melumang GBKP Cililitan

Pada tanggal 2 Desember 2006 diadakan Natal Gabungan antara Moria Mamre, Lansia dan Anak Melumang dilingkungan GBKP Cililitan, yang hadir ± 200 orang, pembawa Firman Pdt. Rosmalia br Barus.

Gabungan PJJ Sektor Bethani dan Bethlehem Runggun GBKP Cililitan.
Pada tanggal 8 Desember 2006 diadakan Natal Bersama PJJ Sektor Betani dan Betlehem di GBKP Cililitan, yang hadir 150 orang, pembawa Firman Pdt. A. Simanungkalit.

KA/KR GBKP Cililitan

Pada tanggal 3 Desember 2006 diadakan Natal KAKR Cililitan yang diadakan di Gedung DITKES AD Cililitan yang hadir ± 200 orang, pembawa Firman adalah Tim dari PGI.

KA/KR GBKP Pondok Gede

Pada tanggal 10 Desember 2006 diadakan Natal KAKR Runggun Pondok Gede di Gereja GBKP Pondok Gede.

Sunday, December 17, 2006

Mburo Ate Tedeh i Swedia ras Karo Eropa

oleh Rosalina Br Purba

Bagi biasana kita ikuta setahun sekali erbahan acara ”mburo até tedeh” ras kadé-kadenta
Bagempe keluarga karo i Swedia, amingia ndauh sirang sada ras sideban i usahaken maka banci
Jumpa sekali ntah dua kali setahun sesama warga karo i Swedia emekap tujunna mempererat hubungan kekeluargaan sada ras sideban.

I Negara Swedia lit 6 keluarga karo si cibalna ndauh sada ras sideban lit deba jarak tempuna 5-6 jam perdalanen naik mobil ntah kereta api. Tapi ibas jabu si 6 énda amin gia ndauh sada ras sideban tambah waktu sicocokpe meseraka muatsa erkiteken Pendahin ras an k-nak sekolah i usahaken maka ibas musim panas libur panjang anak sekolah kami pulung si megati i Stockholm ibu kota Swedia i jabu Rehulina br Barus.

Mbaru-mbaru enda bas awal bulan october 06 silepus, kami jumpa ke rina i Stockholm erdandanken kerehen turang kami Dhany Barus si reh i Jakarta nari dalam rangka tugas praktek ibas PLN Jakarta sebulan i Swedia. Rembangka senina turang kami Dhany enda pe paksana study muat S2na i Swedia emkap Hartanta Barus sienggo megati kami pulung ras-ras bagi keluarga sendiri. Emaka si ikut pulung ibas acara ”mburo ate tedeh” énda emkap:

Keluarga bengkila Malem Ukur(MU) Ginting si tading i kota Göteborg
Keluarga Pelita Ginting i Goteborg nari
Keluarga Rehulina br Barus i Stockholm
Keluarga Rosalina br Purba si ringan i kota Västerås

Ibas perjumpana mburo ate tedeh enda bersifat kekeluargaan menjalin hubungan keluarga lebih dekat dan lebih akrab Sada ras sideban, bagi biakna kalak karo sidiberu rdakan ras-ras erban cimpa rsdna, ibas perjumpan endape biasan kenca dung man ra-ras emak benakenkame landek ras rende erkaroke janah ndedah DVD lagu ras gendang karo, emak suasananape tuhu-tuhu erbahan mburo ate tedeh man sesama keluarga karo i Swedia ras mburoka ate tedeh man kade-kade ras kuta kemulihen i Tanah karo. Ade keluarga karo i Swedia enggo terjalin hubungan akrab piga piga tahun silewat ras sidahi-dahi kami sada ras sideban bagi biakna erkade-kade ntahpe erorang tua ras anak-anakna.


Bagépe perjumpan sesama masyarakat karo i seluruh Eropah i usahaken maka banci jumpa sekali setahun ibas acara kerja tahun guna mempererat hubungen kekeluargaan sesama masyarakat karo ibas perlajangen si ndauh ibas kuta kemulihenta nari.
Hususna kerja tahun i Eropah tuhu-tuhu suasanana pas bagi kita erkerja tahun i kuta kemulihenta . Semenjak perkumpulan karo Eropah (Perkoeah) enggo terbentuk emkap ibas thn 2003 i Zutemir Belanda. Peserta ibas kerja tahun enda emekap let piga-piga Negara i Eropah antara lain Belanda sienteremna keluarga Karo emaka peduaken Jerman ras Swedia lit kami 6 keluarga si mayoritas kel Ginting rsd.

Setiap tahun i usahaken maka banci ganti Negara ingan perjumpan emkap acara kerja tahun si biasna penggualna ntahpe perkeyboadna itenahken i Indonesia emkap iMedan ntah i Kabanjahe nari. Tuhu meriah ibas tupung acara kerja tahun situjuanna pemena emkap mempererat hubungan sesama keluarga karo i Eropah.

Ibas setiap acara kerja suasanana tuhu-tuhu mburo ate tedeh man sesama keluarga karo ras mburo ate tedeh ku kuta kemulihen i Taneh karo. Sebab kita jumpa sitandan sada ras sideban, ercakap-cakap alu bahasa karo, pangan sinisikapkenpe khas makanan Karo
Lalupa cimpana bagi biasana kerja tahun i kutanta. Si paling berkesannakel emkap ibas acara sitandan, landek ras rende sini iringi gendang keyboard erbahansa suasana lebih akrab rasmeriah.si biasana diadakan dua wari dua berngi . Jadi rasa persaudaraan lebih erat sebab cukup waktu untuk sitandan ras ercakap-cakap sada ras sidebanna. Emaka pada umumna keluarga ntahpe pribadi br ntahpe merga silima sienggo jumpa bas kerja tahun lebih akrap bagi kade-kade Sebab eme tujun erkerja tahun i Eropah gelah sada ras sideban jadi kade-kade ibas negara sindauh bas kutanta nari. Ibas tglr 8-10 october 06 silewat ilitken acara mburo ate tedeh i Diever Drente Belanda si i perakarsai 6 jabu Emkap : keluarga, Rosvanda br Tarigan, eluarga, Sukmawaty br Pinem, keluarga Nita br Sembiring, keluarga Meka, Rina br Ginting ra keluarga Serpina br Bangun.

Sipulung tuhu nterem ras meriah litka si reh br Sembiring i Moskow nari, turang kami Alexander Barus i Medan nari selain aron i Jerman, Belanda ras Swedia nari.
Tambah pengual/perkeyboardna Samudra Tarigan i T.Karo nari

Melala tuhu dampak positifna ibas mburo ate tedeh ntahpe ibas erkerja tahun i taneh perlajangen sindauhkel bas kutanta nari i taneh karo selain menjalin hubungan lebih akrab ras peburo ate tedeh, meriah ras erbage pelajaren sidatken kita ibas pulung enterem.
Bagi aku sendiri kugejapken tuhu-tuhu mbue pelajaren ras pengalaman simenarik silenga pernah kualami ibas geluhku gia aku Tubuh i Taneh karo, tapi ope erkerja tahun i Eropah lenga aku pernah landek kedekah geluhku,erkiteken lampas lawes lajang i kuta nari, mungki letkange teman sideban siseri pengalamanna sibali ras aku. Em salah sada si merupakan dampak positif ras pengalaman si sehkal berkesanna man bangku secara pribadi, erlajar mencintai budaya sendiri.

Wednesday, November 08, 2006

Ketua HMKI : Bagaimana Supaya Masyarakat Karo Tidak Tertinggal

Bagaimana agar masyarakat Karo tidak tertinggal dengan masyarakat lain di Indonesia atau dapat dikatakan sejajar dengan yang lainnya, itulah yang menjadi cita-cita dari Ketua Umum Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI) Riemenda Jamin Ginting SH, MH.
Dalam suata percakapan dengan Sora Mido di Jakarta, Riemendan Jamin Ginting yang didampingi Sekretaris Jenderal HMKI Budianto Batu Tarigan dan Bendahara Umum Rosian Sinulingga SH serta Sekretaris II Maradona Sinuraya SH diakui selama ini HMKI belum berbuat banyak untuk masyrakat Karo. “Berbagai upaya akan kami lakukan untuk meningkatkan keberadaan masyarakat Karo sesuai dengan apa yang menjadi visi dan misi HMKI,” tegasnya.

Visi HMKI sendiri adalah “Menjadi katalisator dan dinamisator guna terwujudnya masyarakat Karo yang maju, demokratis, beriman dan sejahtera dalam suasana kekrabatan Karo”.
Sedangkan misinya adalah pertama, meningkatkan kualitas sumber daya manusia Karo yang cerdas, terampil, kreatif, inovatif, produktif dan memiliki semangat berpartisipasi untuk pembangunan masyarakat Karo. Kedua, meningkatkan kerukunan masyarakat melalui peningkatan iman, penegakan hokum dan pelestarian nilai-nilai luhur budaya Karo.
Ketiga, menciptakan lembaga-lembaga penelitian dan pengkajian terhadap pendidikan untuk peningkatan sumber daya manusia Karo. Keempat, menjadi mitra serta membangun jaringan kerja dengan lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga swadaya masyarakat lainnya dalam mewujudkan visi organisasi.Adapun motto HMKI adalah “Ersada Kita Megegeh, Ersada Kita Teridah, Ersada Kita Meherga dan Ersada Kita I Perhitungken Kalak”.

Menurut Sekretaris Jenderal HMKI, kepengurusan HMKI periode 2006-2011 jauh lebih ramping dibandingkan dengan kepengurusan sebelumnya. Jika dalam periode sebelumnya BPH berjumlah 45 orang, untuk periode yang sekarang hanya 11 orang. Dan jika dilihat dari Dewan Penasihat yang berjumlah 24 orang, maka potensi yang ada di HMKI sebenarnya cukup besar. Belum lagi anggota Dewan Pakar yang jumlahnya 12 orang dan empat orang diantaanya adalah profesor, maka sebenarnya keuatan yang ada di HMKI sangat dahsyat untuk memberi kontribusi bagi kemajuan masyarakat Karo.

Ada satu cita-cita dari pemuka masyarakat Karo, Dr K Pri Bangun (almarhum) yang ingin diwujudkan HMKI yaitu bagaimana organisasi ini mempunyai dana abadi, sehingga mampu bergerak lebih luwes dalam menjalankan visi dan misinya. “Kami masih ingin mewujudukan cita-cita pendiri organisai ini, yaitu adanya dan abadi. Mudah-mudahan bisa terwujud,” kata Sekretaris Jenderal HMKI.

Dengan seluruh potensi yang ada, HMKI akan berusaha membawa para pengusaha nasional untuk menanamkan modalnya di Tanah Karo demi meningkatkan perekonomian masyarakat Karo. Untuk itu akan dilakukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Karo dalam berbagai bidang, khususnya untuk mengatasi keterpurukan masyarakat Karo menghadapi harga komoditas dari Tanah Karo yang sangat rendah. Padahal dilihat dari potensi komoditas pertanian di Tanah Karo begitu tingginya, sehingga sangat disayangkan keadaan itu terus menjadi masalah bagi petani Karo dari tahun ke tahun.

Pembenahan Organisasi

Dengan tersebarnya masyarakat Karo di hampir seluruh Provinsi bahkan Kabupaten dan Kotamadya seluruh Indonesia, maka HMKI juga saat ini telah memiliki berbagai DPD di Provinsi dan DPC di Kabupaten/Kotamadya.
Menurut Ketua Umum HMKI, beberapa DPC kegiatannya sangat maju. Dia mengambil contoh DPC Langkat yang berlokasi di Stabat, Sumatera Utara, mereka sangat kompak dalam melakukan berbagai kegiatan untuk memajukan masyarakat Karo yang berada di Langkat. “Keberadaan DPC seperti ini akan lebih cepat menjadikan HMKI menjadi organisasi yang betul-betul memberi manfaat bagi masyarakat Karo yang ada,” katanya, dengan bersemangat.
Memang, saat ini berbagai DPD maupun DPC HMKI telah beridiri diantaranya sudah ada DPD di Riau Kepulauan, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan DPC di Batam dan Langkat. “Sudah banyak DPD dan DPC HMKI di seluruh Indonesia, kami akan berupaya membenahinya agar segera bergerak untuk melakanakan visi dan misi yang diemban oleh HMKI,’’ katanya lagi.

Sunday, November 05, 2006

SD MASEHI : Ada Apa Denganmu?


Di era sebelum tahun 1980-an, di Tanah Karo khususnya Kabanjahe ada dua sekolah swasta memiliki reputasi akademik yang menggembirakan. Satu sekolah Masehi dan yang lain lagi milik Katolik. Sekolah Masehi bahkan juga telah dikenal luas bukan saja di lingkungan GBKP, tetapi warga lain yang berdomisili di sana banyak menempuh studi di sekolah ini. Bahkan Letjen (Purn) Arifin Tarigan merupakan salah satu dari alumni sekolah ini. Dan tentu masih banyak rangkaian panjang prestasi dari alumni sekolah yang kini dikelola oleh runggun GBKP Kabanjahe Kota ini. SD Masehi dahulunya telah memiliki empat cabang dan mengelola pendidikan dari jenjang SD hingga ke SMA. Sekolah ini selain memiliki lokasi yang strategis juga memiliki fungsi yang cukup penting guna perkembangan pendidikan masyarakat Karo dan gereja GBKP khususnya. Julianus Liembeng, salah seorang anggota milis yang kebetulan mengajar di Universitas Pelita Harapan, menyebutkan bahwa sekolah Kristen harus unik dan menjadi God Center, katanya mengutip James T. Riady pemilik UPH. God Center artinya, apapun yang menjadi aktivitas sekolah ini kelak akan menjadi kemuliaan Tuhan.

Sebenarnya diskusi ini telah berlangsung lama di milis gbkp@yahoogroups.com. Awalnya, Henndy Ginting seorang dosen di UK Maranatha, Bandung melemparkan tulisan mengenai SD Masehi di Kabanjahe yang semakin terpuruk. Ide terus berkembang menjadi bagaimana me-revitalisasi sekolah tersebut. Haryanto B. Tarigan (Taiwan), Pt. GM Tarigan (alumni Masehi, Jakarta), Dolata Ginting juga dari Pelita Harapan, Simson Ginting (Austria), Christina Ginting (Jerman), Rosalina Purba (Swedia), Nuah P. Tarigan (Bekasi), Juspri Ginting (Philips, Jakarta) serta masih banyak lagi yang memberikan sumbang saran.

Saat ini yang cukup memprihatinkan para netter di milis gbkp adalah merusotnya prestasi yang pernah dimiliki sekolah ini. Sekarang sekolah ini hanya tinggal mengelola SD dan memiliki sekitar 70 orang siswa dengan tiga orang guru tetap dan beberapa orang tenaga honorer dengan gaji Rp 300.000 per bulannya. Untuk itu, beberapa alumni dan simpatisan telah urun-rembug untuk mengembalikan citranya semula yang gemilang. Beberapa orang telah memberikan komitmen untuk memberikan bantuan, baik secara finansial maupun keahlian yang dimiliki masing-masing anggota milis.

Salah satu langkah telah diambil adalah mengkaji hal-hal yang diperlukan untuk mengembalikan citra sekolah ini. Tepat pada 14 Oktober 2006 yang lalu beberapa anggota milis telah bertemu di Kantor Sora Mido, Jatiwaringin guna menindak lanjuti langkah-langkah yang akan ditempuh. Henndy Ginting, Dolata Ginting dan Martin Peranginangin telah membuat satu format mengenai visi dan misi, strategi serta langkah-langkah yang akan di lakukan untuk enam tahun ke depan guna kembali mengangkat citra sekolah ini. Mengapa enam tahun? Karena setelah enam tahun, maka akan ada alumni SD ini pasca bantuan ini. Kita nantikan bagaimana progres berikutnya...(Red)

Berkesenian (Karo) di Jakarta

Oleh : Yulianus Liem Beng

Tulisan Maja Saputra Bukit dalam Sibayak Post edisi November 2004 yang berjudul “Apresiasikan Seni Musik dan Tari Tradisional Karo sebagai Warisan Budaya” tersirat dibenak saya suatu keprihatinan akan kondisi kesenian Karo. Khususnya mengenai kondisi kesenian Karo (musik) yang berkaitan dengan kesenian tradisional. Jika lebih dipersempit lagi adalah jumlah musisi (sierjabaten). Meskipun penghitungan yang dilakukan belumlah seakurat mungkin, tetapi berdasarkan perhitungan kasar di seluruh wilayah Karo di Sumatera Utara sekarang ini terdapat 78 orang pemusik tradisional dengan catatan semuanya telah berumur 50 atau 60 tahun ke atas.

Lima tahun yang lalu (2001) juga, ketika kami melakukan shooting di Jakarta dengan dua orang seniman Karo dari Medan untuk sebuah produk VCD, mereka juga menyebutkan kondisi kesenian Karo saat itu tidak jauh dari kondisi yang disebutkan oleh Bukit tersebut, bahkan mereka (-- Sorensen Tarigan dan Alm. Stasion Tarigan --) khawatir tidak akan ada lagi generasi baru (muda) yang mau berkecimpung di musik tradisional Karo. Gendang tradisional Karo (gendang lima sedalanen dan gendang telu sedalanen) terbatas hanya dipakai pada acara kematian cawir metua atau nurun dan upacara-upacara adat lainnya bagi orang Karo yang masih ‘menghargai’ keseniannya. Semua kegiatan yang berkaitan dengan musik ‘hampir’ sepenuhnya dilahap oleh yang namanya organ tunggal kibot (keyboard). Oleh sebab itu muncul lelucon yang mengatakan para sierjabaten Karo seakan-akan ‘berdoa’ supaya ada orang yang meninggal cawir metua agar dapat job. Mungkin saja tidaklah separah ini, tapi kenyataannya jumlah pemusik tradisional semakin hari semakin berkurang.

Di Jakarta ? Mungkin kondisinya sangat berbeda dan dapat dipahami bahwa di Jakarta populasi Karo juga sangat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan daerah asalnya. Namun kesenian Karo di Jakarta bukan tidak dibutuhkan. Setidaknya di Jakarta ada 14 pemain kibot, seorang pemain sarune, dan dua orang pemain gendang. Jelas, dominasi kibot.

Dulu sekitar tahun 1990-an ada satu kelompok sierjabaten yang tinggal dan menetap di Jakarta yang lebih dikenal dengan group ‘Pool BK’ karena posko mereka di sebuah pool taksi di daerah Kali Malang. Namun akibat gempuran kibot dan lebih mahal dibanding dengan musik kibot, maka secara perlahan-lahan group ini juga mundur dengan teratur meskipun mendapat subsidi dari seorang Karo yang mempunyai kepedulian terhadap kesenian tersebut. Tahun 1997 di Jakarta tinggal satu dua orang saja seniman tradisional dan tahun 1999 hanya tinggal satu orang saja, yaitu pemain gendang. Pemain gendang ini juga dapat bertahan karena mempunyai usaha cucian mobil (door smer). Semuanya kembali ke Tanah Karo, dan satu sisi pemain kibot semakin banyak mengadu nasib ke Jakarta, karena upah (honour) konon jauh lebih tinggi dibanding di Sumatera. Sebagai perbandingan, tahun 1996 jumlah pemain kibot Karo tidak lebih dari 3 orang, dan sekarang lebih dari 14 orang. Bahkan di Eropah sendiri masyarakat Karo kabarnya sudah menggunakan kibot dalam acara kerja tahunnya.

Berkesenian Karo di Jakarta memang menjanjikan secara finansial, oleh sebab itu tidak mengherankan banyak pemain kibot Karo mengadu nasib ke Jakarta. Akan tetapi tentunya harus juga dibekali dengan kemampuan (skill). Profesi sebagai pemain kibot Karo juga adalah sah-sah saja. Profesi tentunya menyangkut keprofesionalan yang peka akan unsur-unsur entertain, service, network, marketing dan sebagainya, yang berujung kepada kesuksesan secara materi (la pajek gara api).

Seniman sebagai agen perubah (agent of change) di dalam masyarakat, minimal bagi pendukung fanatiknya, seharusnya atau idealnya mempunyai rasa tanggung jawab akan kesenian dimana dia berpijak meskipun perubahan tidak dapat dihindarkan. Tanpa ada perubahan maka kesenian itu juga akan mati, namun sejauh mana seniman telah melakukan perubahan, apakah sudah sampai pada perubahan makna (mean) atau masih seputar cara. Kehadiran gendang kibot pada masyarakat Karo di Jakarta mampu merubah cara dan hampir merubah makna.

Melihat kenyataan tersebut maka timbul beberapa pertanyaan, yaitu : Adakah upaya orang Karo di Jakarta kembali menghidupkan gendang tradisional Karo ? Masih relevankah gendang tradisional Karo dengan era modernisasi sekarang ini ? Zaman sudah berubah, musik yang berkaitan dengan selera juga tentunya perlu berubah, bukankah musik yang statis akan mati dan ditinggalkan karena tidak mampu lagi memenuhi selera masyarakat ? Kenapa mesti gendang tradisional Karo ? Bukankah gendang tradisional Karo itu sepi, sunyi, senyap dan terkesan sangat monoton sekali ? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dapat diungkapkan. Tetapi inti dari semua itu adalah bahwa perubahan memang tidak dapat dihindarkan. Era globalisasi juga sangat membutuhkan karakteristik dan kekhasan. Demikian juga musik. Jawaban-jawaban akan pertanyaan tersebut di atas juga bukan tidak beralasan, dan tentunya membutuhkan jawaban secara teoritis yang tak mungkin dijelaskan lewat tulisan yang singkat ini, tergantung benar salah karena relativitas pandangan meskipun faktanya subjektif dan obyektif.

Saya bersyukur karena setidaknyalah di Jakarta sekarang ini ada upaya yang dilakukan segelintir orang yang untuk mengembangkan kembali Kesenian tradisional Karo, yaitu Sanggar Partitur. Sanggar ini didirikan pada tanggal 10 Juli 2003. Sanggar yang telah terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta ini juga mendapat dukungan dari Pemda Karo, yaitu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karo. Pada tahun 2004 yang lalu Dinas Budpar telah memberikan dukungan dengan memberikan bantuan seperangkat alat musik tradisional Karo meskipun peralatan tersebut juga kondisinya kurang memuaskan. Demikian juga Kantor penghubung Propinsi Sumatera Utara dan Dinas Kebudayaan DKI juga turut memberikan dukungan.

Sanggar ini secara rutin mengisi acara kesenian Karo di Anjungan Provinsi Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah. Meskipun latihan masih seret karena keterbatasan pengetahuan. Mereka punya sarune tetapi tidak ada pemain. Di tahun 2004 mereka dapat memperkenalkan kesenian Karo di even-even kesenian lintas etnis di Jakarta, seperti di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Tennis Indoor Senayan, di Gedung BPPT Jakarta dan sebagainya. Berduit ? Gendang kibot solo sekali main di Jakarta lebih kurang satu juta rupiah, gendang tradisional dengan lima orang pemain tentunya lebih kecil. Sekali lagi rasa tanggung jawab dan idealisme.

Memang ada kesenian yang dapat menghidupi dirinya sendiri, ada juga kesenian yang memang harus mendapat subsidi. Kesenian tradisional Karo sekarang ini sangat pantas mendapat subsidi dari pemerintah karo pemerintah merasa kesenian itu perlu. Namun apabila tidak ada dukungan dan subsidi dari pemerintah atau masyarakat, apakah kesenian itu akan mati atau punah ? Ya, sekali lagi tergantung kepada masyarakatnya itu sendiri, apabila ada yang merasa perlu maka dia akan pertahankan kelangsungannya. Bekasi, 21 Januari 2005.

Peluang Investasi di Kabupaten Karo

Seminar Sehari “Ras Kita Pesikap Kutanta”:

Oleh : Henndy Ginting

Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Karo bekerja sama dengan Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI) pada Hari Kamis, 21 September yang lalu menyelenggarakan sebuah seminar yang bertema Pesikap Kuta Kemulihenta. Seminar yang bertempat di Hotel The Sultan, yang dulu bernama Hotel Hilton tersebut dihadiri lebih kurang 120 orang yang terdiri dari tokoh-tokoh Karo yang tinggal di Jakarta, beberapa pengusaha, dan para pejabat Pemkab Karo. Orang Karo yang tinggal di Jakarta yang terlihat hadir antara lain, mantan Dirut Astra Graphia, Inget Sembiring, mantan Pejabat PLN, Guapa Malem Tarigan, Ketua Umum HMKI dan pengurusnya, Riemenda Jamin Ginting, Butar Latuconsina Sitepu, H. KP. Malik Tarigan, dan lainnya.

Seminar diawali dengan kata sambutan dari Ketua Umum HMKI, Ibu Riemenda Jamin Ginting. Beliau menyambut baik inisiatif Pemkab Karo untuk secara terbuka dan profesional dalam upaya membangkitkan iklim usaha di Karo. Berbagai kelalaian masa lalu seperti lambatnya pelayanan petugas Pemkab, banyaknya pungutan liar, dan manajemen Pemkab yang kurang terarah diharapkan dapat diatasi oleh pemerintahan yang baru. Ibu Riemenda juga menghimbau peserta seminar untuk sekuat tenaga dan pikiran berpartisipasi aktif pada saat diskusi dan menghindari pembicaraan diluar hal-hal yang berkaitan dengan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Karo. Oleh moderator, isi sambutan ini dijadikan sebagai rambu-rambu “tata tertib” seminar dengan ungkapan “murni bicara bisnis dan investasi”.

Anak Beru Sienterem

Bupati Karo, Bapak D.D. Sinulingga, dalam sambutannya mengajak segenap masyarakat Karo yang tinggal di luar Karo memberikan kontribusi nyata sesuai dengan bidang dan kompetensi masing-masing untuk ikut membangun “Kuta Kemulihen”. Dengan semangat kebersamaan “Ras Kita Pesikap Kutanta”, beliau menegaskan perlunya tanggung jawab moral seluruh orang Karo untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Tanah Karo. Walaupun banyak orang Karo yang sudah sukses tinggal di luar Karo, sedikit banyak “pasu-pasu” Tanah Karo Simalem dipercaya memberikan semangat dalam mencapai kesuksesan tersebut. Oleh karenanya kedekatan emosional dan kultural dengan tanah kelahiran hendaknya diwujudkan dengan berperan aktif membangun Karo. Sesaat sebelum memukul gong untuk membuka seminar, Bupati Karo mengajak, “Kerina Kita Terlibat Kalak Karo Si Lima Merga.”

Berbicara tentang kebijakan investasi di Karo, Bupati Karo menjamin peluang yang dibuka selebar-lebarnya bagi para investor. Hanya saja usaha yang dibangun harus memberi nilai tambah bagi masyarakat terutama untuk meningkatkan kesejahteraan “rayat si rulo”. Jangan sampai dengan maraknya investasi dan industri di Karo nantinya membuat anggota masyarakat menjadi “buruh” atau pekerja. Justru sebaliknya dengan adanya investor atau perkembangan industri dapat memacu terciptanya industri-industri pendukung yang berhubungan dimana anggota masyarakat yang tinggal di Karo lah sebagai pengusaha atau setidaknya sebagai “manajer-nya”. Dengan demikian terjadi transfer pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat Karo untuk lebih maju. Hal ini penting menurut Bupati Karo mengingat orang Karo yang sebagian besar petani adalah pekerja yang tulus dan rajin bekerja tetapi kurang pengetahuan mengenai bisnis/pasar.

Sehubungan dengan kebijakan pintu terbuka bagi para investor untuk menjajaki peluang usaha di Karo, Bupati Karo menyatakan ia dan seluruh jajarannya siap menjadi “anak beru sienterem”. Bahkan ketika ada salah seorang peserta diskusi yang mempertanyakan keseriusan Pemkab Karo untuk menjadi “anak beru sienterem”, Bupati Karo dengan tegas menjawab bahwa jajarannya yang tidak siap akan segera ditindak atau bahkan diberhentikan. Makna kultural “anak beru sienterem” merupakan analogi dari konsep Customer Service Orientation (CSO) yang menjadi salah satu strategi andalan manajemen perusahaan untuk menghadapi persaingan dan globalisasi. Pada sisi lain CSO mengandung unsur sosial, ketulusan, dan empati yang tampaknya menjadi sangat relevan di dalam manajemen pemerintahan pada era otonomi saat ini. Salah satu bentuk CSO terhadap investor, Bupati Karo menjelaskan untuk mengeluarkan ijin prinsip suatu usaha, apabila semua persyaratan sudah terpenuhi, tidak akan membutuhkan waktu lama. Bahkan apabila memang memberi nilai tambah bagi masyarakat Karo, ijin prinsip dapat dikeluarkan dalam tempo kurang dari satu jam.

Fakta, Informasi, dan Data

Sebagai bahan referensi untuk lebih dapat mendalami situasi riil Kabupaten Karo, Pemkab yang diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda), Sumbul Depari, memaparkan fakta, informasi, dan data tentang peluang dan tantangan investasi di Karo. Pemaparan tersebut selain disarikan pada handout seminar, juga tersaji di dalam sebuah buku “Regional Potency and Investment Opportunity of Karo Regency” yang diterbitkan Pemkab Karo. Pokok-pokok pikiran paparan tersebut dibagi ke dalam 6 bagian yaitu Gambaran Umum Kabupaten Karo, Potensi Wilayah, Isu dan Permasalahan, Arah dan Kebijakan Pembangunan 2006-2001, Peluang Investasi, dan Harapan terhadap Orang Karo Perantauan.

Gambaran umum Karo yang perlu dicatat antara lain pertumbuhan penduduk sebesar 1,25%, dari 312.300 jiwa ditahun 2004 menjadi 316.207 jiwa ditahun 2005. Apabila dibandingkan dengan total luas wilayah Karo yang sebesar 2.127,25 Km maka kepadatan penduduk adalah 147 jiwa/Km2. Keseluruhan penduduk tersebar di 13 kecamatan dimana Kecamatan Berastagi dan Kabanjahe menduduki peringkat tertinggi untuk kepadatan penduduk yaitu 1.254,33 jiwa/Km2 dan 1.209,41 jiwa/Km2. Sedangkan Kecamatan Lau Baleng dan Mardinding memiliki wilayah yang paling luas yaitu sebesar 252,60 Km2 dan 267,11 Km2. Sedangkan pertumbuhan ekonomi meningkat dari 4,06% di tahun 2001 menjadi 6,06% di tahun 2004. Income perkapita penduduk di tahun 2004 tercatat sebesar Rp. 8.473.844,-. Kontribusi terbesar terhadap PDRB tercatat di tahun 2005 dari sektor pertanian sebesar 60,55% dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 12,05%. Data yang cukup menggembirakan adalah Human Development Index (HDI) 5 tahun terakhir dimana keseluruhan komponennya berada di atas rata-rata HDI Propinsi Sumatera Utara.

Potensi wilayah di bidang pertanian sebagai penghasil sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija cukup besar dan terealisasi dalam bentuk ekspor. Akan tetapi potensi pertanian tersebut membutuhkan pasokan pupuk kandang dari luar daerah. Tercatat 350 ton pupuk kandang yang setara dengan Rp. 56 juta didatangkan dari luar daerah setiap harinya. Begitu pula dengan bidang pariwisata, menawarkan objek wisata alam, budaya, agro wisata, dan peninggalan sejarah. Hanya saja jumlah wisatawan menurun drastis setelah krisis moneter di tahun 1997 sampai dengan sekarang. Misalnya saja jumlah wisatawan yang berasal dari negara-negara Asean menurun dari 121.008 orang di tahun 1997 menjadi 5.662 orang di tahun 2005. Industri Kecil dan Menengah yang berkembang di Karo antara lain adalah syrop markisah, terong karo, selai, bubuk kopi, tahu, roti, anyaman, industri teknologi pendukung pertanian dan lainnya. Bidang pertambangan juga cukup memberikan warna pada potensi wilayah mengingat adanya bahan galian seperti belerang, batu gamping, zeonit, dan lainnya yang tersebar di berbagai kecamatan.

Beberapa isu dan permasalah yang cukup signifikan untuk dicatat antara lain di bidang pertanian menyangkut kurangnya pengembangan teknologi yang ramah lingkungan dan pengetahuan bisnis di kalangan petani. Di bidang pariwisata, kurangnya program promosi dan sosialisasi wisata yang terpadu akibat ketidaktersediaan biaya. Sedangkan di bidang SDM, kompetensi aparat PNS masih perlu ditingkatkan untuk mendukung terciptanya “clear and good governance” serta pelayanan yang prima. Sarana dan prasarana pendidikan menjadi relevan untuk ditingkatkan sehubungan dengan kurangnya kompetensi SDM Karo. Selanjutnya di bidang sosial budaya perlu perhatian lebih terhadap pendidikan moral dan pelestarian budaya di kalangan masyarakat. Contoh konkrit untuk masalah sosial kemasyarakatan antara lain premanisme, narkoba, perjudian, dan yang lainnya.

Untuk menjawab berbagai fenomena isu dan permasalahan di Kabupaten Karo, Pemkab Karo merumuskan visi yaitu terwujudnya masyarakat kabupaten karo yang maju, demokratis, beriman, dan sejahtera dalam suasana kekerabatan karo. Untuk pencapaian visi tersebut disusun strategi pembangunan melalui 3 pilar utama yaitu pembangunan ekonomi kerakyatan, pengembangan SDM, dan pembenahan sarana dan prasarana investasi. Melalui strategi tersebut diharapkan pertumbuhan ekonomi meningkat rata-rata 0,25% per-tahun atau setara dengan pendapatan perkapita sebesar Rp. 10 juta di tahun 2010. Hal ini hanya akan terwujud apabila tercipta iklim investasi dari sektor swasta sebesar Rp. 595 Milyar per-tahun.

Peluang investasi di Kabupaten Karo tersebar di berbagai sektor. Di sektor pertanian misalnya terbuka peluang untuk pengadaan bibit, teknologi pertanian, pengolahan pasca panen, teknologi penyimpanan hasil pertanian, jaring apung, sapi perah dan sapi potong, pengolahan kopi, dan pengolahan kemiri. Di sektor pariwisata, berbagai objek wisata alam seperti Lau Kawar, Tongging (Danau Toba), Taman Mejuah-juah, Tahura, Air Terjun Sikulikap, Pemandian Air Panas, Mbal-mbal (“ranch”) Nodi, Deleng Kutu, Uruk Tuhan, Gunung Berapi (Sinabung dan Sibayak), dan Uruk Gundaling. Disamping itu peluang di sektor pertambangan seperti PLTA Lau Kersik dan Geothermal Sibayak dapat menjadi alternatif investasi.

Testimonial

Ikut mendamping Sekda Kabupaten Karo dalam paparannya adalah seorang putra karo yang sudah memulai usaha mix farming di daerah Peceren, Berastagi. Dr. Ir. Petrus Sitepu bersama rekannya, seorang investor asal Berastagi, Simon Lee, yang dalam 6 bulan terakhir ini berbisnis sapi perah, sapi potong, dan mengembangkan usaha pertanian “sweet corn”. Sebelum berbicara lebih jauh, Petrus memberi kesaksian bagaimana mudahnya memperoleh ijin prinsip dari Pemkab Karo. Selain dapat dengan mudah meminta waktu audiensi dengan aparat Pemkab, beliau menyampaikan bahwa ijin prinsip usahanya dapat keluar dalam waktu 1 jam. Bahkan beliau merasakan dukungan moril, misalnya dengan adanya kunjungan mendadak dari Bupati Karo ke lokasi usahanya.

Menurut paparannya, Petrus optimis usaha sejenis akan potensial berkembang di Karo mengingat tidak ada limbah yang terbuang dari usaha tersebut. Sebagai gambaran, dari batang jagung muda yang sudah dipanen dijadikan makanan ternak/sapi dan buah jagung (sweet corn) dapat langsung dipasarkan. Sedangkan sapi yang dipelihara saat ini menghasilkan daging dan susu yang mulai mencapai pasar Medan dan sekitarnya. Menurut perkiraan Bung Petrus, Kota Medan membutuhkan 200 ekor sapi setiap harinya untuk konsumsi penduduk. Apabila Karo bisa memasok 25-50% saja dari kebutuhan tersebut maka akan banyak masyarakat Karo terangkat kesejahteraannya. Selanjutnya beliau menjelaskan limbah ternak sapi dapat langsung diolah kembali menjadi pupuk kandang.

Sehubungan dengan paparan yang sarat dengan isu ramah lingkungan tersebut, Ibu Butar Latuconsina dari HMKI menyambut dengan menawarkan produk-produk sarana pertanian organik dengan teknologi mikro organisme. Selain untuk menjawab kebutuhan pengolahan limbah dan sarana pertanian semi organik, produk tersebut tentunya sedikit banyak dapat mengubah citra poduk pertanian Karo yang didominasi teknologi anorganik. Terlepas dari besar tidaknya relevansi tawaran produk tersebut, semangat Ibu Butar untuk berpartisipasi dalam pembangunan Karo patut diapresiasi dan dapat menjadi “provokator” bagi putra-putri Karo lainnya.

Beberapa pertanyaan dan ide berupa alternatif solusi muncul disela-sela diskusi yang berdurasi lebih kurang 5 jam tersebut. Salah satu kritik atas paparan Pemkab adalah pentingnya uraian peluang investasi yang lebih rinci. Sedangkan berbagai saran yang sempat tercatat antara lain penggunaan transportasi laut sebagai alternatif untuk mengangkut hasil pertanian ke Jawa dan daerah lainnya, kesiapan sumber daya yang berkualitas untuk mengelola usaha yang akan dibangun di Karo, pelayanan aparat Pemkab yang perlu terus ditingkatkan, dan fleksibilitas birokrasi terutama dalam penerbitan sertifikat tanah pertanian yang selama ini menjadi masalah besar bagi petani. Hanya saja pada sesi ini suasana diskusi terlihat kurang produktif akibat kurang siapnya peserta untuk melakukan analisis terhadap fakta, data, dan informasi yang disajikan Pemkab. Pada sisi lain, para kepala dinas di lingkungan Pemkab juga terlihat belum terbiasa dengan acara “social time” yang dirancang panitia sebagai sarana untuk melakukan pendekatan dengan pengusaha. Pada sesi “sosial time” ini beberapa kepala dinas terlihat “ngobrol” sambil merokok di luar ruangan diskusi.

Kesimpulan dan Saran

Acara seminar sehari “Ras Kita Pesikap Kutanta” yang berfokus pada Peluang dan Tantangan investasi di Kabupaten Karo pada dasarnya merupakan manifestasi dari niat tulus masyarakat Karo perantauan dan Pemkab Karo untuk bersama-sama berpikir dan merencanakan aksi untuk membangun Karo. Tentunya pepatah “Kemarau setahun dihapuskan oleh hujan sehari” tidak berlaku dalam konteks ini. Artinya seminar tersebut hanyalah sebuah nyala kecil yang perlu terus dikobarkan untuk pada saatnya menjadi wujud nyata dengan adanya beberapa orang Karo perantauan yang memulai usaha di Karo atau membawa investor datang ke Karo. Beberapa sikap yang perlu dikembangkan untuk mengobarkan api semangat kebersamaan ini antara lain “trust” (saling percaya), ketulusan, dan rela berkorban.

Peran serta integratif antara akademisi/ilmuan, pengusaha, birokrat, sukarelawan, dan segenap masyarakat Karo perlu dikoordinasikan oleh Pemkab sehingga menjadi solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Berbagai survei dan penelitian tentang peluang usaha di Karo perlu segera diinisiasi oleh orang Karo yang bergerak di bidang ilmu terkait dan peran Pemkab selain mendukung penelitian tersebut juga secara berkala mensosialisasikan hasilnya melalui berbagai media sehingga menyentuh seluruh kalangan masyarakat Karo. Sedangkan dari sisi pengusaha dan birokrat Karo tentunya peluang investasi di Karo tidak hanya dipandang sebagai untung besar semata bagi diri sendiri tetapi sudah selayaknya dikaitkan dengan unsur sosial dan kepedulian terhadap Kuta Kemulihen.

Pada akhirnya kompetensi para aparatur PNS Karo terutama unsur-unsur manajer lini (kepala dinas dan kepala bagian) di bidang pelayanan dan kewirausahaan menjadi syarat mutlak dalam merespon minat investor. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut diperlukan pengelolaan SDM yang profesional melalui upaya assessmen dan intervensi (pelatihan dan pengembangan) bagi kalangan aparat khususnya pada level pengambil keputusan. Hendaklah para aparat disemua lini bersikap menjadi “anak beru sinenterem” bagi pelanggan (masyarakat, investor, dan sesama rekan kerja). Pada sisi lain mereka juga harus “smart” untuk menangkap sinyal peluang bisnis dari berbagai usulan, proposal, dan kunjungan para investor. Bukan berarti aparatur PNS yang akan menjadi pengusaha tetapi mereka harus “cerdas” untuk merespon dan melayani segala jenis potensi usaha yang akan dibangun oleh berbagai kalangan untuk kemajuan Tanah Karo Simalem.

Sketsa Arsitektur Karo Masa Kini

Nuah P. Tarigan

Tulisan ini mungkin tidak cukup dalam menjelaskan situasi dan keadaan Arsitektur Karo masa kini, oleh karena itu saya menambahkan kata sketsa pada judulnya. Sketsa menunjukkan suatu gambaran awal dari suatu bangunan atau arsitektur yang sifatnya private dan public.

Didalam arsitektur, sketsa adalah penumpahan semua ilham dan ide dari seorang arsitek dalam menggambarkan imajinasinya. Akan tetapi tidak cukup hanya sampai sketsa saja, karena perlu dikembangkan lagi dengan apa yang dinamakan Rencana dan Rancangan (Plan dan Design). Arsitektur Karo seharusnya juga punya dinamika yang progresif, tidak berhenti atau mandeg. Ini ditunjukkan dengan makin banyaknya bangunan yang bernuansa; Karo, akan tetapi itu tidaklah cukup karena ternyata banyak bangunan yang bertype Karo tersebut hanya bentuk luarnya saja (Form) akan tetapi Ruang (Space) nya tidak sesuai sama sekali.

Arsitektur Karo yang lumayan representative menurut saya saat ini adalah bangunan gereja Katolik yang baru di Brastagi, lokasinya pas ditikungan dan terletak agak tinggi dari bangunan lainnya, dan juga beberapa arsitektur bernuansa Karo lainnya yang ada di Kabupaten Karo dan Deli Serdang. Hanya perlu ditelusuri juga apakah bangunan bangunan yang secara bentuk atau form/ shape nya sudah memenuhi kriteria konsep bangunan Karo. Karena hati atau nyawanya pun harus punya kaitan dengan KeKaroan.

Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini banyak warga Karo yang tidak peduli lagi dengan Arsitektur bernuansa Karo ini, kebanyakan para eksekutif dan pemilik rumah yang punya uang yang berlebih, mendesign bangunan rumahnya dengan arsitektur minimalis, bali, avant-garde lainnya, atau pendekatan ekletis (campur-campur). Memang ada yang berusaha untuk mendesign bangunan dengan memakai bentuk atap Karo dan atap yang punya empat muka (empat ayo), akan tetapi kebanyakan gagal dalam hasil designya karena hanya menjiplak secara membabi-buta.

Atap bukanlah satu-satunya unsur yang diperhatikan didalam mendesign bangunan Karo, ada banyak hal yang perlu diperhatikan yaitu corak warna, shape, space, mass, unity, tones, dan lain sebagainya. Ini akan bertautan dengan fungsi bangunan, konteksnya dan sumbangannya dalam membuat lingkungan yang asri, bersih dan sehat.

Arsitektur yang asri, bersih, sehat, punya sumbangan dalam sosial kemasyarakatan dan bermartabat. Satu hal yang penting adalah sumbangan kita dalam pembangunan masyarakat yang menyeluruh, bukan hanya untuk kepentingan pribadi dan kepuasan duniawi dan material. Karena ini pada akhirnya akan menyumbangkan peran serta yang luar biasa dalam perencanaan dan perancangan kota. Saya kira ini bisa diasosiakan dengan keluarga yang sehat dan kuat akan membuat Negara kita ini sehat dan kuat juga.

Suatu bangunan yang bermartabat dan punya peran dalam sosial kemasyarakatan adalah bangunan fisik yang tidak super-egois dan tidak sangat individualis. Memang unsur private tidak boleh hilang, akan tetapi seharusnya dia tidak melupakan masyarakat yang memberikan sumbangan yang besar bagi kemaslahatan dirinya.

Adanya hubungan yang organis dan saling mendukung ini akan membuat keluarga dalam satu rumah atau suatu fungsi bangunan itu akan menjadi suatu hubungan simbiosis mutualistis, saling membantu dan membangun. Banyaknya kegagalan yang terjadi dalam masyarakat kita tidak lepas dari ketidak-mampuan kita dalam melihat sisi sisi manusiwai dalam arsitektur, artinya, kita sering hanya memuaskan diri kita sendiri untuk kehebatan dan kepopuleran kita tanpa melihat manfaatnya pada orang lain.

Akhirnya sketsa ini kiranya dapat menjadi bahan perenungan kita dalam melihat sisi sisi arsitektur Karo yang kontekstual dan bersifat kekinian, bukan untuk membuat suatu menara mercu-suar untuk memuaskan diri kita sendiri, kelompok kita sendiri, dan kebanggaan diri kita sendiri.

Mudah-mudahan arsitektur Karo tidak diKudeta oleh Arsitek-arsitek generesi-generasi masa yang akan datang dan bukan dari kalangan kita sendiri. Semoga tidak menjadi tawanan-tawanan dalam pikiran kita sendiri, kesombongan kita dan kenaifan kita.


Bangkok, 24th September 2006

Komitmen Baja Seorang Lelaki

Oleh Simson Ginting

Pinta Pinta

Ola singet aku nari
Ola ku tenahken pepagi
Sope lenga terang wari
Tekuak manuk merari

Ola lolah lolah turang
Dahilah dahindu mesayang
Gia kita enggo ndauh sirang
Pekepar lawitna si mbelang
Ola atendu aru turang

Gia sirang si kita lebe
Kena nge pinta-pintaku jine
Bagem dage
Bagem lebe

Ola lolah lolah turang
Gia kam bas sapo terulang
Tatap pagi ku bulan meganjang
Ngataken arih-arihta labo sirang
Ola atendu aru turang

Gia sirang si kita lebe
Kena nge pinta-pintaku jine
Bagem dage
Bagem lebe

(Djaga Depari)


Paling tidak ada 4 lagu karya Djaga Depari yang menurut hemat saya, baik dari segi melodi maupun syair, merupakan karya monumental dari komponis besar itu. Yakni Piso Surit, Sora Mido, Si Mulih Karaben dan Pinta Pinta. Keempatnya menjadi klasik, disukai tua muda dari generasi ke generasi dan menjadi lagu pujaan banyak orang.
Dari segi syair “Pinta Pinta” mencerminkan komitmen yang kuat terhadap sebuah cita-cita. Ada tekad yang membara. Meskipun hal itu tidak terungkap secara eksplisit namun terasa menjiwai syair lagu itu. Berbeda dengan spirit yang tercermin dalam lirik lagu-lagu yang lain yang juga tersohor. Seperti “Piso Surit” dan “Pio Pio” misalnya, berbicara tentang kerinduan yang tidak kesampaian, soal nasib malang, rasa kesepian karena sang kekasih (melambangkan sesuatu) tidak memberikan tanggapan (bersikap dingin). Sedangkan lirik “Pinta-Pinta” melukiskan hal yang sebaliknya. Si "aku" meminta, dia yang bertindak, mengambil inisiatif, agar sang kekasih tidak mengenang dirinya, apalagi memintanya untuk kembali (Ula singet aku nari/Ula ku tenahken pepagi) seperti ditekankan pada larik pertama dan kedua.

Sampai disini, kita menemukan dua kalimat negatif berisi larangan : jangan. Jangan lakukan ini dan jangan lakukan itu. Ada kesan angkuh atau setidaknya mencerminkan sosok pribadi yang kokoh. Seperti puisi Chairil Anwar “Aku“, tidak perlu sedu sedan itu, katanya menampik sentimentalitas manusia dalam menghadapi maut (kodrat kematian).
Tapi apakah memang demikian?

Ternyata untuk bisa memukan makna yang utuh harus dilihat larik yang selanjutnya : Sope lenga terang wari/Tekuak manuk merari. Sebelum fajar menyingsing dan ayam berkokok bersahutan-sahutan, jangan kau kenang diriku, jangan pula memintaku untuk kembali atau pulang. Itulah yang menjadi konteks dari larik pertama dan kedua tadi. Inilah kunci untuk memahami isi keseluruhan lirik lagu tsb.
Simbol fajar
Bila demikian maka kata fajar tampak menjadi syarat mutlak atau menjadi prinsip si aku. Sebelum fajar tiba, si kekasih tidak perlu mengenang dirinya. Lupakan aku sayang. Hapus saja aku dari ingatanmu, tak ada gunanya kau kenang diriku, begitu kira-kira Djaga Depari berkata. Kalau si aku meminta kepada kekasihnya untuk menghapus dirinya dari dalam ingatannya, itu artinya menghapus eksistensinya dalam hubungan itu. Dia menjadi bagian dari ketiadaan selama fajar itu belum menyingsing.

Sungguh tekad yang sangat kuat.

Bila demikian, apa yang dimaksudkan Djaga Depari dengan ungkapan fajar menyingsing dan ayam berkokok (menekankan pada suasana fajar), Sope lenga terang wari/Tekuak manuk merari, sehingga menjadi syarat utama dalam hubungan mereka? Artinya, kalau fajar tidak menyingsing maka mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Si aku tidak akan pernah kembali. Konsekwensinya, hubungan itu akan selesai dengan begitu saja, tanpa bekas, tanpa kenangan, tanpa makna.

Secara alamiah, fajar menandai pergantian hari, hari yang baru. Suara ayam berkokok dimana-mana (merari), bersahut-sahutan, ada dinamika, merupakan "musik alami" dalam menyambut datangnya hari yang baru. Bila Fajar datang maka kegelapan malam berlalu dan tibalah hari yang baru.

Fajar tentu menjadi simbol dari sebuah cita-cita. Sesuatu yang dianggap ideal setelah keadaan buruk (kegelapan dilambangkan dengan malam) berlalu. Tapi sebelum hal itu terwujud, sebelum fajar tiba, dirinya tidak punya arti apa-apa sehingga tidak perlu atau tidak layak dikenang.
Obesesi

Bila kita amati keseluruhan lirik lagu “Pinta Pinta“ tampak sturkturnya sebagai berikut. Bait 1 berisi komitmen si tokoh dengan tekadnya yang membaja, Ola singet aku nari/Ola ku tenahken pepagi/Sope lenga terang wari/Tekuak manuk merari. Dalam bait ke 2, si tokoh mulai memberikan perhatian kepada sang kekasih dengan lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang :Ola lolah-lolah turang/Dahilah dahindu mesayang/Gia kita enggo ndauh sirang/Pekepar lawitna si mbelang/Ola atendu aru turang.

Si aku memberikan dorongan moril kepada sang kekasih. Kendati mereka berpisah, si aku berada di seberang lautan, di perantauan, di medan juang, dia meminta kepada kekasihnya agar tidak larut dalam lamunan dan tenggelam dalam kesedihan sampai pekerjaannya terbengkalai.

Ternyata sekalipun mereka berjauhan, tidak berarti hilang dari pandangan hilang pula di hati seperti sering terjadi di era modern ini. Melainkan hanya sang kekasih saja yang senantiasa menjadi dambaan hidupnya. Gia kita sirang lebe/Kena nge pinta-pintaku jine, ujarnya. Pinta-pinta adalah sesuatu yang menjadi idaman hati. Menjadi Obsesi. Menjadi bagian dari hidupnya. Apapun yang dilakukannya, segala perjuangannya, mengarah kepada sang kekasih. Karena memang sang kekasih selalu dalam pikirannya.

Kemudian pada bait ke 3 ada kata kunci yang perlu mendapat perhatian kita yaitu larik Gia kam bas sapo terulang. Terulang artinya sesuatu yang terlantar, tidak dipergunakan lagi sehingga keadaannya tidak terurus. Sapo, tempat sementara. Bisa juga sebelum rumah selesai dibangun, untuk sementara orang membuat sapo-sapo sebagai tempat tinggal sementara. Sapo terulang simbol dari tempat tinggal sementara yang buruk dimana sang kekasih hidup/berada. Biarpun dalam keadaan seperti itu, dia minta sang kekasih tidak larut dalam lamunan atau hilang pikiran. Bila sang kekasih larut dalam kesedihannya, diminta agar dia menatap bulan di langit sebagai bukti bahwa janji yang telah mereka ikrarkan berdua tidak akan pernah luntur. Jadi, janganlah kau bersedih dik, bisik si aku dari tempat yang jauh, pekepar lawitna si mbelang. Jarak yang jauh hendaknya jangan dilihat dari segi geografis, soalnya bisa juga berarti jarak psikologis. Ndeher tempa tapi la terjaka.
Saya teringat akan kisah Abraham dalam Kitab Perjanjian Lama. Ketika hatinya mulai ragu-ragu akan janji Allah, Tuhan meminta kepada Abraham untuk pergi ke luar dari tendanya dan memandang bintang-bintang di langit. Itulah tanda dari janjiKu kepadamu Abraham, berkata Tuhan. Sejak itu, manakala hati Abraham diliputi keragu-raguan, ia pun memandang bintang-bintang di langit lalu hatinya pun menjadi kuat kembali menanti-nantikan janji agung tersebut.

Hal seperti itu pula tampaknya yang diminta oleh si aku kepada kekasihnya. Memandang bulan di langit, itulah tanda komitmen akan janji yang telah dicanangkannya. Mereka pasti bersatu, karena fajar yang dinanti-nantikan itu pasti menyingsing. Tinggal soal waktu saja. Itulah pancaran optimisme yang tersirat dalam syair lagu itu.
Multi tafsir

Seperti kita ketahui, kekuatan sebuah puisi terletak pada isinya yang bersifat multi tafsir. Apa sebenarnya makna keseluruhan lirik lagu “Pinta-Pinta”? Tidak dapat diterangkan dengan tuntas tanpa menerobos masuk ke dunia imajaniasi orang lain. Masing-masing orang menafsirkan dan merasakan getarannya secara sendiri-sendiri. Tidak ada yang seragam. Karena itu, puisi dapat berbicara kepada setiap individu dengan isi dan kadar keindahan yang berbeda-beda dan unik.
Sekarang masih tersisa dua buah pertanyaan kunci yang belum kita kupas. Pertama, kita mengerti kata fajar melambangkan sebuah cita-cita. Tapi cita-cita tentang apa? Kedua, siapa yang dimaksudkan sebagai “kekasih“ yang disapa oleh si aku dengan penuh kasih sayang itu, yang hidupnya berada dalam situasi yang serba tidak terurus, gia kam bas sapo terulang, melambangkan keadaan yang serba susah itu? Apakah benar-benar seorang gadis atau itu lambang dari sesuatu yang lebih luas?

Terserah kepada penafasiran kita masing-masing. Menikmati sebuah puisi pada hakekatnya merupakan sebuah pertemuan rahasia antara pembaca dengan penciptanya. Dalam hal ini pertemuan antara kita dengan Djaga Depari. Saya tidak bermaksud menggiring orang lain masuk ke bilik pertemuan saya dengan Djaga Depari. Kita mempunyai bilik pertemuan masing-masing. Di dalam bilik itulah terasa betapa Djaga Depari merupakan seorang penyair Karo yang luar biasa. Sayang sekali, sampai hari ini pengharagaan kita kepadanya belum setara dengan rasa kagum kita itu. Penghargaan itu masih bersifat artifisial, belum substansial.**** NRC Wina, 22 September 2006

Maju, Kaya Dihormati?!

Oleh : Tommy H. Sinulingga

Semua orang ingin maju! Semua orang ingin kaya! Dan semua orang ingin dihormati!
Sehingga banyak orang melakukan segala cara untuk maju, kaya dan ingin dihormati; Ada yang menuntut ilmu sampai jenjang yang paling tinggi; Ada yang terus bekerja dan bekerja serta mungkin ada yang “menuntut ilmu” ke Guru Sibaso.

Mungkin sebagian masyarakat kita masih punya kecendrungan bahwa dengan menuntut ilmu sampai jenjang yang paling tinggi membuat kita pasti maju dan berhasil. Mungkin kita sering berfikir dengan Kemampuan Intelektual (IQ) yang tinggi, kita pasti berhasil.

Saya memiliki seorang teman yang sangat pintar di bangku sekolah. Dia ini sering juara dalam studynya dan setiap mata pelajaran selalau terdepan. Setamat kuliah, dia bekerja pada suatu perusahaan sekala nasional tapi sayang pada masa kerja tersebut, dia tidak berhasil didalam dunia kerjanya. Rekan-rekan kerjanya mengatan bahwa teman saya ini sering marah-marah, merasa pintar sendiri dan suka emosi jika pendapatnya tidak disetujui oleh rekan kerja ataupun atasannya. Akhirnya dia keluar dari tempat kerjanya. Kegagalan teman saya ini dikarenakan dia tidak bisa mengontrol emosinya. Kemampuan Emosi (EQ) yang masih rendah membuat dia tidak bisa bekerja sama dengan rekan kerjanya. Ternyata IQ yang tinggi tidak menjamin kita berhasil

Saya juga memiliki saudara yang sangat pintar. Dengan IQ yang tinggi, kuliah dapat selesaikannya sebelum waktunya. Cita-cita saudara saya ini adalah mejadi seorang manager yang handal disuatu perusahaan asing yang besar. Dengan keinginan yang besar untuk menjadi seorang manager, saudara saya ini bekerja keras. Pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Dia juga dapat bekerja sama dengan rekan-rekan kerjanya dan juga dengan atasannya. Masalah-masalah yang timbul dapat diselesaikan dengan sangat memuaskan. Sepertinya dia dan rekan-rekan kerjanya bisa memajukan perusahaan dengan baik. Terlihat seseorang pemimpin yang akan menjadi orang hebat dibidangnya. Dengan kemampuan IQ and EQ yang seimbang sepertinya membuat saudara saya ini akan menjadi orang yang sukses. Setelah sekian lama waktu berlalu, saya mendengar kabar yang tidak mengenakkan. Saudara saya itu dipecat dikarenakan terbukti korupsi! Ternyata pada masa jabatannya, saudara saya ini sering melakukan korupsi dana perusahaan untuk kepentingan sendiri. Ternyata IQ dan EQ tidak menjamin kita maju. Pada masa hidupnya, kehidupan rohani saudara saya ini tidak bertumbuh. Walaupun Kristen, tetapi sedikitpun tidak pernah mengenal Kristus. Kemampuan Rohani ( RQ ) yang lemah membuat saudara saya ini terhambat untuk maju.

Saya dekat dengan seseorang ibu tua di kampung. Dia bukan orang yang berpendidikan! Dia juga bukan seorang pemimpin perusahaan! Dia hanyalah seorang ibu tua yang kalau pagi berangkat ke ladang, pulang sore. Diwaktu sengang dia biasa berjualan sayur mayur dan buah di pajak (pasar ). Sering sekali dalam berdagang, jika sayur sudah layu, dia tidak pernah jual. Dia dengan jujur mengatakan kalau sayurnya sudah layu, tidak baik untuk dijual. Jika buah yang dijual 2 Kg, timbangannya juga tidak pernah dikurangi. Jika ada pembeli nenek nenek yang membeli sayur atau buah, jarang sekali dia menerima uangnya. Jika pergi ke ladang jeruknya, dia dengan suka cita memberikan kepada orang yang meminta untuk menghilangkan rasa haus. Sepertinya orang sekitar merasa dibantu dan diberkati olehnya. Satu keistimewaan ibu ini adalah dia sangat dekat dengan Kristus. Dia ingat betul bahwa semua kebutuhan akan dipenuhi jika dia lebih dahulu mengutamakan Kristus. Jemaat sekitarnya juga merasakan betapa si ibu ini sangat tulus beribadah setiap Minggu. Disaat jemaat lain mungkin saling memojokkan baik antar Jemaat, Pekerja dan Pendeta, disaat beberapa jemaat melibatkan unsur politik didalam kelembagaan Gereja, tetapi si ibu ini tetaplah seorang ibu yang takut akan Tuhan. Pada tahun tahun berikutnya, betapa kagumnya saya melihat ternyata semua anak-anaknya telah menyelesaikan perguruan tinggi dengan baik. Saya bisa melihat ibu tua ini adalah seorang ibu yang maju, kaya dan dihormati didalam Tuhan.

Dengan Kemampuan Rohani ( RQ ) yang baik dan benar, kita bisa seperti ibu tua ini.

“ Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuannya itu akan ditambahkan kepadamu “ ( Mat. 6 : 33 ).

Monday, October 02, 2006

Redaksi Tabloid Sora Mido



Tabloid Sora Mido
Diterbitkan oleh Pustaka Sora Mido

Pimpinan Umum : Drs. N.J. Sembiring
Wakil Pimpinan : Budi Sitepu, MA
Pimpinan Redaksi : M. Karo-Karo
Sekretaris Redaksi : Martin L. Peranginangin

Dewan Redaksi :
M. Karo-Karo, Martin L. Peranginangin, Tehna Bana Sitepu, SH, Julianus Liembeng, Devi Lestari Sinulaki, Julbintor Kembaren, Hartawati Gurusinga, Robinson Sembiring, Nomi Br. Sinulingga, Maradona Sinuraya

Koresponden :
Bandung : Henndy Ginting, Jakarta : Irma C. Ginting, Joey Bangun, Robert Ketaren, Ramly Barus, Bekasi : Hendri Sembiring, SH, Bogor : Julbintor Kembaren, Henny Sembiring, Kaban Jahe : Aswin Ginting, Medan : Robinson Sembiring, Medi Sembiring, Ngguntur Purba Tanah Karo & Berastagi : Tetap Ginting, Juhar : Efendi Sembiring, Miswan Sembiring, Binjai-Langkat : Richardo Sitepu, Deli Serdang : Ngasa Bukit, Agustinus Ginting, SH, Sentosa Barus Lubuk Pakam : Sakti Sembiring, SH, Siantar-Simalungun : Sue P. Ginting, Lurus Tarigan, Simpar Tarigan, Nias : Abdy Immanuel Sinulingga

Biro Luar Negeri :
Swedia : Rosalina Purba, Jerman : Christina Ginting, Belanda : Yaninta Br Sembiring, Belgia : Lucy Ginting, Australia : Edi Sebayang & Arlinta Barus, Frans Simarmata (Sidney), USA : Rani Tarigan, California : Raja & Riantho G. Munthe

Alamat Redaksi : Jl. Jatiwaringin Raya No. 42 Pondok Gede 17411, Jakarta Timur
Telp/Fax. (021) 84976336, (021) 84977027, E-mail : tabloidsoramido@yahoo.co.id, www.soramido.blogspot.com
Rek Bank BCA No : 005.134.865.5 atas nama N.J. Sembiring

Redaksi menerima tulisan, artikel, esai, puisi, foto, cerpen, baik dalam bahasa Karo maupun bahasa Indonesia. Tulisan dapat dikirim ke alamat e-mail, redaksi atau faximili. Naskah yang masuk menjadi milik redaksi. Untuk pemasangan iklan dapat menghubungi redaksi. Materi iklan bisa dikirim lewat fax atau e-mail.